Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Ima Mahdiah menegaskan pentingnya menjaga bahasa persatuan di tengah perkembangan teknologi digital dan algoritma media sosial yang dinilai berpotensi mempersempit ruang dialog, memperkuat polarisasi, serta menyebarkan disinformasi di tengah masyarakat.
Dalam tulisannya bertajuk Bahasa Persatuan di Era Algoritma, Ima mengatakan peringatan Sumpah Pemuda setiap 28 Oktober tidak seharusnya berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi perlu menjadi momentum untuk memperkuat semangat persatuan di ruang digital.
“Padahal yang diikrarkan anak muda pada 1928 bukan sekadar mengenai bahasa. Yang mereka perjuangkan adalah kesediaan untuk berada dalam satu ruang dialog yang sama, saling mendengar, dan saling memahami meski datang dari latar yang berbeda. Bahasa persatuan dipilih justru supaya ruang dialog semacam itu bisa ada,” kata Ima, Selasa (27/10/2028).
Menurut Ima, tantangan persatuan pada masa kini tidak lagi hanya berkaitan dengan perbedaan suku dan daerah, tetapi juga dengan algoritma yang memengaruhi informasi yang dikonsumsi masyarakat, termasuk menentukan pandangan dan percakapan yang berkembang di media sosial.
“Hampir seabad kemudian, ruang dialog itulah yang terancam. Bukan oleh penjajah, bukan oleh perbedaan suku, melainkan oleh mesin yang menentukan apa yang kita baca, siapa yang kita dengar, dan dengan siapa kita bertengkar. Kita menyebutnya algoritma. Tantangan pemuda hari ini bukan lagi mempertemukan Jong Java dengan Jong Ambon, melainkan merebut kembali kendali atas percakapan bangsa dari tangan algoritma,” ucapnya.
Ima mengingatkan bahwa semangat Sumpah Pemuda lahir dari kesediaan para pemuda dengan latar belakang berbeda untuk duduk bersama dan merumuskan cita-cita kebangsaan. Kongres Pemuda Kedua yang ditutup pada 28 Oktober 1928 di Jalan Kramat Raya 106, Batavia, menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan persatuan Indonesia. Menurutnya, generasi muda saat itu tidak selalu memiliki pandangan yang sama. Namun, mereka memilih berdialog dan mencari kesepakatan bersama daripada mempertahankan ego kelompok masing-masing.
“Mereka tidak datang dengan pandangan yang sama. Perdebatan soal bahasa dan bentuk persatuan berlangsung keras, dan tidak semua usul diterima. Tetapi mereka memilih jalan yang sulit, yaitu tetap duduk satu meja dengan orang yang berbeda pandangan sampai menemukan rumusan bersama. Mereka tidak memilih jalan yang nyaman, yaitu pulang ke kelompok masing masing dan merasa paling benar,” ujarnya.
Ima menilai warisan sejarah tersebut relevan bagi Jakarta sebagai kota yang menjadi tempat bertemunya masyarakat dari berbagai latar belakang. Semangat keterbukaan dan dialog, kata dia, perlu terus dipertahankan, terutama ketika ruang digital semakin memengaruhi kehidupan masyarakat.
Ia menyoroti cara kerja media sosial yang mengutamakan keterlibatan pengguna. Konten yang memicu kemarahan, ketakutan, dan rasa paling benar dinilai berpotensi mendapatkan perhatian lebih besar sehingga memperkuat ruang gema atau echo chamber di antara pengguna.
“Yang pertama, ruang kita sekarang terpecah. Media sosial bekerja dengan logika keterlibatan. Apa yang membuat kita berselancar di media sosial, berkomentar, dan membagikan, itulah yang diperbanyak. Dan yang paling mengikat perhatian manusia sayangnya bukan kabar baik, melainkan kemarahan, ketakutan, dan rasa benar sendiri,” jelasnya.
Ima juga menyoroti penyebaran hoaks dan konten manipulatif yang semakin mudah diproduksi melalui pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Menurutnya, kondisi tersebut dapat merusak kualitas komunikasi publik dan mengancam bahasa persatuan yang selama ini menjadi fondasi kehidupan berbangsa.
“Bahasa persatuan yang dulu dirumuskan dengan susah payah kini diganti bahasa pecah belah yang diproduksi massal, murah, dan tanpa wajah,” ungkapnya.
Selain persoalan disinformasi, Ima mengingatkan bahwa perhatian pengguna media sosial juga menjadi komoditas ekonomi. Persaingan platform untuk mempertahankan perhatian pengguna berpotensi membuat masyarakat lebih terbiasa mengonsumsi informasi singkat daripada memahami persoalan secara menyeluruh.
“Perhatian yang dipecah sekecil itu sulit menampung pikiran panjang. Padahal pikiran panjang adalah syarat bagi percakapan yang sehat,” tuturnya.
Bagi generasi muda Jakarta, dampak algoritma juga terlihat dalam cara mereka menerima informasi mengenai berbagai persoalan perkotaan, mulai dari banjir, kemacetan, hingga kebijakan pemerintah daerah. Informasi yang disajikan melalui potongan video dan tangkapan layar dapat mendorong masyarakat mengambil kesimpulan sebelum memahami persoalan secara utuh.
Menghadapi kondisi tersebut, Ima menilai generasi muda tidak perlu menjauhi ruang digital. Sebaliknya, mereka perlu berperan aktif dalam membangun ekosistem digital yang sehat melalui kebiasaan memeriksa informasi, memproduksi konten yang mencerahkan, serta mendorong regulasi yang melindungi masyarakat.
“Saya tidak percaya jawabannya adalah menjauh dari ruang digital. Ruang digital sudah menjadi ruang publik kita, tempat orang bekerja, belajar, dan berorganisasi. Yang dibutuhkan adalah kesadaran bahwa kita punya peran di dalamnya, dan saya melihat setidaknya tiga,” imbuhnya.
Peran pertama, menurut Ima, adalah menjadi penjaga percakapan dengan memeriksa informasi sebelum membagikannya, menahan diri agar tidak memperkeruh persoalan, serta membuka ruang dialog dengan orang yang memiliki pandangan berbeda.
“Memeriksa sebelum membagikan. Menahan diri untuk tidak ikut memperkeruh ketika sebuah isu sedang digoreng. Berani masuk ke percakapan dengan orang yang berbeda pandangan tanpa niat saling menjatuhkan,” ucapnya.
Peran kedua adalah menjadi pembuat konten yang mampu menghadirkan informasi dan cerita yang memperkuat persatuan. Ima menilai generasi muda memiliki peluang besar untuk memanfaatkan teknologi, termasuk AI, guna memperluas jangkauan pesan positif dan membangun komunitas yang produktif.
“Ruang digital tidak akan pernah menjadi ruang yang kosong. Ia diisi oleh siapa pun yang paling rajin. Pertanyaannya hanya siapa yang mengisinya?,” tanyanya.
Peran ketiga adalah mendorong regulasi yang adil, termasuk transparansi cara kerja algoritma, perlindungan data pribadi, serta penguatan literasi digital sebagai hak masyarakat. Ima menilai upaya penanganan disinformasi tidak cukup hanya melalui penghapusan konten setelah menyebar, tetapi juga harus disertai peningkatan kemampuan masyarakat dalam mengenali informasi yang menyesatkan.
“Yang lebih menentukan adalah apakah warganya sejak awal sudah dibekali untuk tidak mudah termakan narasi-narasi yang menyesatkan tersebut.”
Dalam konteks Jakarta, Ima menilai pemerintah daerah memiliki ruang untuk memperkuat literasi digital melalui program kepemudaan, memberikan dukungan kepada komunitas digital, serta memastikan kebijakan terkait dijalankan secara nyata.
“Sebagai bagian dari DPRD Jakarta, saya melihat ini sebagai pekerjaan rumah yang belum selesai, termasuk bagi saya sendiri.”
Ima juga mengajak generasi muda menghidupkan kembali semangat gotong royong dalam menghadapi tantangan era digital. Menurutnya, persatuan harus dibangun melalui kesediaan untuk memahami perbedaan dan menjaga ruang bersama, bukan terjebak dalam kelompok yang hanya memperkuat pandangan sendiri.
“Gotong royong di era ini berarti menolak dikurung, dengan sengaja mencari yang berbeda, dan mengerjakan ruang bersama itu dengan tangan sendiri.”
Ia menegaskan bahwa bahasa persatuan bukanlah warisan yang selesai diperjuangkan oleh generasi terdahulu, melainkan tanggung jawab yang harus dijaga dan disesuaikan dengan tantangan setiap zaman.
“Bahasa persatuan bukan warisan yang selesai. Ia adalah pekerjaan yang harus dikalibrasi setiap generasi dengan lawan yang tentu pasti berbeda. Generasi 1928 merebutnya dari politik pemisahan kolonial. Generasi sekarang harus merebutnya dari pemisahan yang dijalankan algoritma.”
Ima turut mengutip pesan jurnalis Filipina sekaligus penerima Nobel Perdamaian 2021, Maria Ressa, mengenai pentingnya fakta, kebenaran, dan kepercayaan dalam membangun kehidupan bersama.
“Without facts, you can’t have truth. Without truth, you can’t have trust.”
Menurut Ima, pesan tersebut menegaskan bahwa masyarakat membutuhkan kenyataan bersama yang dibangun melalui informasi yang dapat dipercaya. Hal itu sejalan dengan semangat Sumpah Pemuda yang mengedepankan persatuan di tengah keberagaman.
Ia pun mengajak generasi muda menjadikan peringatan Sumpah Pemuda sebagai momentum untuk menerapkan nilai persatuan dalam aktivitas sehari-hari, termasuk ketika berinteraksi di media sosial.
“Sumpah Pemuda tidak diwariskan melalui kegiatan seremonial, melainkan dihidupkan setiap kali kita memilih apa yang kita bagikan,” pungkasnya. [Gesuri.id]

