Siang itu, Selasa 12 Agustus 2025, Auditorium lantai 8 Gedung Nurcholish Madjid Universitas Paramadina dipenuhi mahasiswa yang haus inspirasi politik. Mereka hadir dalam talkshow bertajuk “Dari Aktivis ke Legislator: Jalan Dewan Muda Membangun Harapan Baru”, hasil kolaborasi Dewan Kita, Universitas Paramadina, dan Tempo.
Acara dibuka oleh Direktur Eksekutif Dewan Kita, Juang Akbar Magenda. Dalam sambutannya, ia mengumumkan perubahan nama organisasinya dari Caleg Muda menjadi Dewan Kita. Organisasi ini adalah mitra strategis legislatif dalam meningkatkan kualitas dan dampak positif di masyarakat.
“Kami hadir sebagai jembatan antara aspirasi masyarakat dan realitas politik legislatif. Tujuannya agar politik terasa lebih relevan dan mudah diakses,” kata Juang Akbar.
Diskusi kemudian menghadirkan tiga legislator muda DKI Jakarta: Ima Mahdiah, Wakil Ketua DPRD dari PDI Perjuangan; Ghozi Zulazmi, anggota Komisi D dari Partai Keadilan Sejahtera; dan Raden Gusti Arief Yulifard, anggota Komisi E dari Partai NasDem. Percakapan mereka dipandu oleh jurnalis Tempo, Fachrian Bachri.
Cerita ketiganya menyingkap jalan panjang penuh tantangan. Ima Mahdiah, misalnya, mengisahkan bagaimana beasiswa penuh di Paramadina menjadi pijakan awalnya. “Saya masuk politik dari bawah, dengan bekal pendidikan yang saya perjuangkan sendiri. Itu membuat saya punya tanggung jawab moral untuk membalas kepercayaan masyarakat,” katanya.
Kisah serupa datang dari Ghozi Zulazmi. Politisi PKS ini mengaku perjalanan politiknya sering diwarnai skeptisisme. Namun justru hal itu yang menempanya. “Anak muda sering dianggap belum siap. Tapi di situlah kesempatan untuk membuktikan bahwa kita bisa memberi warna baru di politik,” ujarnya. Sementara itu, Gusti Arief menekankan pentingnya nilai sosial sebagai landasan politik. “Kalau niatnya hanya jabatan, cepat sekali habis. Yang bikin bertahan adalah dedikasi pada masyarakat.”
Tiga cerita itu menegaskan bahwa jalan anak muda di politik bukan sekadar ambisi pribadi. Mereka harus berhadapan dengan keraguan senior, sorotan publik, hingga tuntutan untuk selalu dekat dengan masyarakat. Duduk di kursi dewan, kata mereka, berarti menyiapkan diri secara fisik, mental, sekaligus menjaga karakter.
Di balik kisah personal para politisi muda, kampus tetap hadir sebagai fondasi. Paramadina, misalnya, menekankan pembinaan mahasiswa melalui program magang dan kolaborasi dengan lembaga legislatif. Dari ruang kuliah, mahasiswa belajar sistem politik sekaligus diberi ruang praktik nyata. Pendidikan, bagi mereka, bukan hanya soal pengetahuan, melainkan pembentuk integritas dan inovasi dalam pelayanan publik.
Tak heran bila isu pendidikan muncul sebagai perhatian utama. Ima menekankan pentingnya pendidikan gratis dari SD hingga perguruan tinggi, terutama bagi masyarakat Betawi yang rawan putus sekolah atau pernikahan dini. “Program KJP dan KJMU harus terus diperjuangkan agar anak-anak Jakarta tidak kehilangan masa depannya,” katanya.
Selain pendidikan, isu ketenagakerjaan dan perumahan juga mengemuka. Ghozi menyoroti pengangguran di kalangan pemuda berpendidikan, sementara Gusti menekankan kebutuhan mendesak hunian vertikal di Jakarta. “Rusunawa bukan pilihan, melainkan kebutuhan,” tegasnya. Kesejahteraan warga ibu kota, kata mereka, hanya bisa terjaga lewat strategi yang konkret.
Layanan kesehatan pun menjadi agenda penting. Mereka sepakat bahwa akses mudah, birokrasi ringkas, dan penguatan BPJS adalah kunci peningkatan kualitas hidup masyarakat. Pendidikan dan kesehatan, menurut mereka, adalah dua pilar yang tak boleh dipisahkan.
Dari ruang diskusi Dewan Kita di Paramadina, lahir optimisme bahwa politik anak muda bisa menjadi jalan perubahan nyata. Dengan integritas, inovasi, dan partisipasi aktif, mereka menyalakan harapan baru bagi masa depan politik Indonesia. [Tempo.co / Foto: Muhammad Radityo Hermawan]