Prihatin Tawuran Berulang, Ima Mahdiah Dorong Pendidikan Budi Pekerti di Sekolah

Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, Ima Mahdiah, meminta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kembali memunculkan mata pelajaran budi pekerti di sekolah sebagai langkah preventif mencegah tawuran pelajar.

Menurut Ima, pendidikan budi pekerti penting untuk menanamkan nilai-nilai etika dan perilaku baik sejak dini kepada siswa, sehingga dapat menekan potensi terjadinya aksi tawuran.

Ima mengaku prihatin karena hingga kini tawuran antarpelajar maupun antarkampung masih kerap terjadi di Jakarta.

Ia menilai, penanganan tawuran harus dilakukan secara menyeluruh dan tidak hanya mengandalkan tindakan represif.

“Sepertinya di tiap-tiap sekolah perlu memunculkan kembali mata pelajaran budi pekerti,” ujar Ima, Senin (12/1/2026).

Ia menambahkan, pihaknya akan menyampaikan usulan tersebut kepada jajaran eksekutif untuk dicarikan solusi agar mata pelajaran budi pekerti bisa kembali hadir di lingkungan sekolah.

“Nanti kita akan sampaikan kepada eksekutif bagaimana cari solusinya agar mata pelajaran budi pekerti hadir kembali,” kata Ima.

Lebih lanjut, Ima menegaskan bahwa upaya pencegahan tawuran membutuhkan kerja sama lintas sektor.

Menurutnya, Pemprov DKI Jakarta perlu berkoordinasi dengan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), kepolisian, serta Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait.

Kerja sama tersebut dinilai menjadi kunci utama untuk mencegah aksi tawuran yang terus berulang, mengingat karakter dan pola perilaku anak-anak saat ini dinilai berbeda dengan generasi sebelumnya.

“Karena anak-anak sekarang agak beda, jadi pendekatannya juga harus melalui sekolah, orang tua, dan keluarga. Itu yang harus didekatkan kembali kepada anak-anak,” jelasnya.

Meski demikian, Ima menyadari pemberian sanksi administratif, seperti pencabutan fasilitas Kartu Jakarta Pintar (KJP), dapat menjadi salah satu bentuk efek jera bagi pelaku tawuran.

Namun, ia menekankan kebijakan tersebut perlu dibahas bersama pihak eksekutif dengan tetap mengedepankan aspek edukatif dan perlindungan anak.

“Kalau saya lihat, mereka lebih karena di keluarganya tidak terlalu diperhatikan. Nilai-nilai etika dan budi pekerti yang harus dibangun lagi,” pungkas Ima. [Tribunnews.com]